Slide K.I.S.A.H

MASA PRA SEJARAH DI INDONESIA


MEGALITHICUM
Soekmono pada bagian terakhir buku sejarah kebudayaan Indonesia jilid I, menjabarkan yang dimaksudkan dengan kebudayaan megalithicum ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini biasanya tidak dikerjakan halus-halus, hanya diratakan yang kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. Begitu juga Dr. P.V. Van Stein Callenfels mengemukakan tentang zaman tersebut.
Sudah kita ketahui bahwa dengan dimulainya zaman logam tidaklah berakhir jaman batu, sehingga dalam zaman logam orang masih terus menggunakan batu sebagai bahan. Maka sesungguhnyalah megalithicum atau kebudayaan batu besar itu bukanlah membawa arti timbulnya kembali zaman batu sesudah zaman logam. Memang megalithicum itu akarnya terdapat dalam zaman neolithikum, tetapi baru berkembang betul-betul dalam zaman logam. Hal ini dapat nyata oleh karena ditempat-tempat penemuan hasil me¬galithicum seperti dalam kuburan zaman itu, yang banyak sekali didapatkan manik-manik dan alat-alat dari perunggu, bahkan ada kalanya pula alat-alat dari besi. Maka dari itu megalithicum Indonesia biasa dimasukkan kebudayaan Dongson sebagai salah satu dari cabangnya.
Perlu dikemukakan bahwa dinegeri kita sampai kini pun masih terdapat kebudayaan megalithicum yang masih hidup menjadi kebudayaan sekarang, seperti dipulau Nias, Sumba dan Flores.
Adapun hasil-hasil yang terpenting dari kebudayaan megalithikum adalah :
a. Menhir ialah rupanya seperti tiang atau tugu, yang didirikan sebagai tanda peringatan dan meiambangkan arwah nenek-moyang sehingga menjadi benda pujaan.
b. Dolmen ialah rupanya seperti meja batu berkakikan men¬hir. Ada dolmen yang menjadi tempat saji dan pemujaan kepada nenek-moyang, ada pula yang dibawahnya terdapat kuburan.
c. Sarcophagus atau keronda adalah bentuknya seperti palung atau lesung, tetapi mempunyai tutup .
d. Kubur batu tak beda dengan peti mayat dan batu, ke-empat sisinya berdindingkan papan batu, begitu pula alas dan bidang atasnya dari papan batu.
Bedanya dari keranda ialah bahwa keranda itu adalah satu buah batu besar yang dicekungkan bagian atasnya seperti lesung dan dibuatkan tutup batu tersendiri, sedangkan kubur-batu merupakan peti yang papan-papannya lepas satu dari lainnya.
e. Pundek berundak-undakan yaitu bangunan pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat (dilihat dari samping berupa tangga).
f. Area diantaranya ada yang mungkin melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan.
Sesungguhnya kebudayaan megalithicun ini meninggalkan bekas-bekasnya diseluruh Indonesia. Dalam berbagai ragam dan bentuk. Akan tetapi sebagai peninggalan prasejarah yang sudah diselidiki betul-betul terdapatnya terutama sekali di Sumatra dan Jawa.
Di Sumatra peninggalan yang terpenting terdapat di dataran tinggi Pasemah (dipegunungan antara wilayah Palembang dan Bengkulu). Disana ada sekumpulan besar area-area, menhir, dolmen dan hasil-hasil kebudayaan megalithicum lainnya. Penyelidikan terutama dilakukan oleh Dr. Van der Hoop dan Van Heine Geldern. Lebih-Iebih dari arca-arcanya diperoleh petunjuk yang sangat besar artinya bagi penyelidikan -bilai asal dan umur megalithicum disana itu. Kebanyakan dari area-area itu mewujudkan manusia, sendirian atau berkelompok dan sering pula digambarkan berkelahi dengan atau menunggang seekor binatang. Dari senjata-senjata yang dipegangnya dan perhiasan-perhiasan yang dipakainya nyatalah bahwa benda-benda itu hasil kebudayaan zaman perunggu. Lebih-lebih kita mendapat kepastian oleh karena pada beberapa area, seperti "Batu Gajah", terdapat gambar nekara. Lagi pula dari daerah Pasemah ditemukan berbagai benda dari perunggu dan besi. Sedangkan dari kuburan-kuburan banyak didapat-kan manik-manik dari gelas.
Di Jawa tempat kebudayaan megalithikum prasejarah terutama didapat diujung Timur, di daerah Besuki. Pening¬galan-peninggalan itu berupa kuburan yang oleh penduduk disebut "pandhusa" dan sebetulnya dolmen berisi kubur-kubur batu dibawahnya. Dari dalam kuburan-kuburan banyak ditemukan tulang belulang manusia dan alat-alat, seperti pemukul kulit kayu dari batu, manik-manik, pecahan-pecahan periuk belanga dan juga alat-alat dari logam. Dari ditemukannya sebuah jambangan porselin bikinan Tiongkok dari abad ke-9 Masehi dapat diambil kesimpulan bahwa di Besuki kebudayaan itu masih berlangsung terus jauh didalam jaman sejarah (benda itu ditemukannya didalam salah suatu pendhusa).
Di daerah Wonosari (Jogja), Cepu dan Cirebon dite¬mukan kubur-kubur batu yang berisi rangka-rangka yang sudah rusak, alat-alat peruggu dan besi, dan manik-manik, Kuburan-kuburan itu menyerupai yang ada di Pasemah di Bali terdapat berbagai sarcophagus besar yang agak menyerupai peti-peti dari Besuki dan isinya tulang-belulang yang sebagian besar rusak, barang-barang perunggu serta besi dan manik-manik. Juga di Sulawesi terdapat bekas-bekas megalithicum, hanya tentang umurnya belum ada kepastian. Penemuan kapak-kapakcorong didekatnya memberi kesan bahwa peninggalan-peninggalan itu berasal pula dari jaman perunggu. Seperti sudah dikemukakan, disamping kebudayaan megalithicum prasejarah di negeri kita terdapat pula ke¬budayaan demikian yang sampai kini masih berlangsung terus. Dari kebudayaan yang masih hidup ini kita peroleh banyak bahan untuk lebih memahami makna dan latar belakang menhir, dolmen dan lain-lain sebagainya. Dalam pokoknya hasil-hasil kebudayaan megalithicum itu hubungannya dengan keagamaan masalah yang berkisar kepada pemujaan roh nenek moyang.
IKHTISAR
1. Didalam ethnologi ada istilah patlatch yang artinya adalah kebiasaan untuk memberi sebanyak mungkin, sehingga orang yang tinggi kedudukannya hams menunjukkan kelebihannya untuk memberi sebanyak mungkin kepada yang lebih rendah.
2. Flast of merit adalah pesta jasa.
3. Menurut Koentjaraningrat megalithicum adalah zaman batu besar yang berakar Mega = besar, lith adalah dan lithos = batu dan icum = masa.
4. Kebudayaan dan manusianya menurut Soekmono.
5. Penterjemah buku pedoman singkat koleksi prasejarah Museum pusat lembaga kebudayaan Indonesia oleh Dr. P.V. van Stein Callenfels adalah Drs. R. P. Suyono, dan penghidupan dalam zaman prasejarah di Indonesia oleh H.R. Van Heekeren ialah Moh. Amir Sutaarga.

NEOLITHICUM
Sampai kini neolithikum diketemukan hanya di Su¬matra Selatan, Jawa Tengah dan Timur disepanjang sungai Bengawan Solo, Bekas-bekas neolithikum diketemukan di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Pabbles didekat Kandangan (Kalimantan Selatan). Kebudayaan neolithikum menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang yang men-cakup pula palaeolithikum dan mesolithikum. Kebudayaan neolithikum adalah merupakan revolusi dari penghidupan food gathering menjadi food-producing dan dizaman neo-lithikum ini dasar pertama sebagai manusia sekarang.
Selanjutnya penulis menambahkan tentang ulasan zaman ini melalui ulasan masa kapak persegi, kapak lonjong dan seterusnya zaman logam.
1. ZAMAN BATU
Dalam zaman neolithikum ini alat-alatnya dapat dibagi atas dua golongan besar, yaitu kebudayaan kapak persegi dan kebudayaan kapak lonjong yang masing-masing mewaki-li arus kebudayaan tersendiri
a.Kapak Persegi
Nama ini berasal dari Van Heine Heldern, berdasarkan penampang alang dari alat-alat yang berupa persegi panjang atau trapesium, yang dimaksud dengan kapak persegi datangnya dari Asia melalui jalan barat.
Bahan kapak persegi ini dari batu api, chacedon dan pembuatan kapak batu api berpusat di pabrik, dengan bukti bahwa di tempat-tempat yang tidak mempunyai batu api diketemukan kapak persegi, semuanya telah dibentuk tapi masih kasar dan belum diasah. Pabrik-pabrik kapak diketemukan didekat Lahat (Palembang) didekat Kota Bogor, Sukabumi, Kerawang dan Tasikmalaya (Jabar) didaerah Pacitan (Madiun) dan dilereng selatan gunung Ijen (Jatim). Didesa Pasir kuda dekat Bogor dan berbagai-bagai batu asahan.
Ada alat neolitihikum dj Jawa bagian barat yang di buat chalcedon alat ini dibuat untuk upacara, disimpan sebagai jimat, senjata suci, dan pusaka yang mempunyai tenaga gaib dan barang ini sangat indah maka bekas-bekasnya tidak pernah digunakan. Sama halnya dengan kapak persegi yaitu kapak bahu, bentuknya sama tetapi dibagian yang diikatkan menyerupai bentuk botol persegi.
Kapak bahu ini meluas dari Jepang, Formosa, Filipina terus ke barat sampai sungai Gangga di Indonesia tidak mengenalnya meskipun ada beberapa buah diketemukan di Minahasa.
b. Kapak Lonjong
Kapak lonjong ini didasarkan atas penampang alangnya yang berbentuk lonjong, bentuk kapaknya bundar telur, ujung yang lancip ditempatkan ditangkai dan ujung-ujung lainnya bulat diasah sehingga tajam. Ka¬pak lonjong ini biasa dinamakan Neolithikum Papua, karena terutama didapatkan di Irian. Kapak Injong mempunyai beberapa ukuran, yang besar dinamakan Walzenbeil dan yang kecil (sampai kecil sekali) disebut Kleinbeil ini diketemukan didaerah antara kapak persegi dan daerah walzenbeil ialah kepulauan Tanimbar, Seram dan sekitarnya.
Ada juga kapak lonjong yang dipergunakan untuk upa¬cara, perkakas dan dikerjakan lebih halus. Pusat kapak lonjong ialah di Seram, Gerong, Tanimbar, Leti, Mina¬hasa dan Serawak (Kalimantan Utara).
Walzenbeil diketemukan juga di Asam, Birma Utara tetapi bagian selatan Hindia Belakang. Di Malaka kapak ini asing. Dengan kesimpulan persebaran kapak lonjong ialah ketimur dari Asia ke Jepang, Formosa, Minahasa terus ke timur penemuan di Formosa, dan Fhilipinamemperkuat dari Irian dan meluas sampai ke Melanesia.

IKHTISAR
1. ETHNOLOGI artinya pengetahuan tentang bangsa-bangsa (suku bangsa) di dunia, adat istiadatnya, hubungannya satu sama lain.
2. ETNIS ialah kesukuan.
3. Anthropoide adalah Kera manusia.
4. Mamalia ialah binatang menyusui.
5. Suku suatu kelompok yang ada persamaan bentuknya sehingga menjadikan ia sejenis.
6. PRIMAT atau private ialah golongan termasuk didalamnya manusia, monyet, monyet besar, kera dalam berbagai jenis dengan ciri-ciri khasnya; jari (dari tangan atau kaki yang dapat digerakkan, ibu jari (tangan atau kaki) yang dapat dihubungkan dengan jari-jari lainnya, otak yang cukup besar dan kulitnya yang banyak lipatan-nya, tangan atau kaki yang dapat memegang, tulang selangka (stentelbeen), kuku bukan cakar dan menstruasi. Kecuali manusia dan monyet besar, primat lainnya hidup dipohon-pohon, demikian pendapat Soegarda Poerbakawatja.

IKHTISAR
1. Manusia mempunyai kelebihan dari binatang karena kecerdasan otak (akal) dan hati batas hak antara naluri/perasaan dan nafsu); serta memiliki keistimewaan dalam berkarya karena kerjanya dalam bergerak bebas.
2. Binatang itu bekerja dan berbuat menurut nalurinya (ke-mauan dalam terbiasa dan kebiasaan/Fitrah/hakekat alamnya), serta Binatang itu tidak berpikir.
3. Tanaman adalah makhluk yang tumbuh begitu saja dan tanpa dipengaruhi rasa atau kerja dalam berbuat sepertiI. ZAMAN LOGAM
Dimulainya zaman logam tidak berarti berakhir zaman batu, dalam zaman logam ini masih terdapat perkakas dari pada batu, bahkan zaman atau perabot rumah tangga masih terdapat dari batu. Betapa penting logam dewasa ini sebagai bahan mcntah itu dapat dipahami.
Mempergunakan balian baru, berarti cara pengerjaan-nya baru pula karena logam tidak dapat dipukul atau pecah seperti batu, pengerjaan logam harus dicetak dan tehnik benda-benda dari logam dinamakan a cire perdue caranya ialah benda yang dikehendaki dibuat dulu dari lilin iengkap dengan bagian-bagiannya. kemudian model lilin ditutup dengan timah dengan jalan dipanaskan maka tanah menjadi keras dan lilin menjadi cair, jika habis lilinnya, dituangkan logam cairan dengan demikian logam menggantikan model lilin sebelah didinginkan tanah dipecah keluarlah model yang dikehendaki.
Dalam zaman prasejarah bahwa zaman Jogam dapat dibagi atas zaman-zaman tembaga, perunggu dan besi, tetapi setelah zaman neolithikum di Asia Tenggara tidak mengenal tembaga meningkat saja kezaman perunggu disamping itu jaman perunggu sangat cepat hanya disusul zaman besi.
A. KEBUDAYAAN PERUNGGU
Hasil yang terpenting dari kebudayaan perunggu di negeri kita adaiah : kapak corong, nekara dan bejana.
1. Kapak Corong atau kapak Sepatu
Kapak ini bagian atasnya berbentuk corong yang sumbernya belah sedangkan kedalam corong itulah dimasukan tangkai kayunya yang menyiku kepada bidang kapak. Benda ini diketemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi tengah/selatan pulau Selayar dan Irian dekatdanau Sentani sangat banyak jenisnya ada yang kecil bersahaja yang biasa disebut candiv.a
Di Yogyakarta candrasa yaitu dihias dengan hiasan yang sangat menarik, di Bandung cetakan diketemukan dengan tehnik a cere perdue.
2, Nekara
Nekara ialah semacam kerumbung dari perunggu yang berpinggang bagian tengahnya dan sisi alasnya tertutup.
Terdapat : Di Sumatera, Jawa, Bali, Pulau Sangean de¬kat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan kepulauan Kai. Di Alor diketemukan lebih kecil dan ramping daripada tempat-tempat lain. Di Alor nekara itu disebut Mako. Mako tidak berasal dari zaman perunggu saja tapi ada juga pada zaman Mojopahit, zaman mutakhir abad ke-19 dengan hiasan bejana kerajaan Inggris dan hingga kini dihargai dan dijadikan mas kawin. Di bali ada nekara yang besar dan utuh dengan garis tengahnya 1,86 m, garis tengah 1.60 m, orang Bali mengangapnya neka¬ra adaiah bagian bulan yang jatuh dari langit. Disimpan didalam kuil (pura) di desa Intaran daerah Pejang serta kuil (pura) didesa Intaran daerah Pejang, kuilnya dinamakan pura Penataran Sesih (bulan), tersebar diseluruh Asia Tenggara. Atas dasar ini menjadi daerah penyebaran kebudayaan perunggu.
Hiasan yang terdapat garis lurus dan bengkok, pilin-pilin dengan gambar-gambar geometri bergambar gambar binatang burung, gajah, merak, kuda, rusa, ru¬mah, perahu dan pemandangan seperti Kikisan orang berburu, orang melakukan tarian upacara dengan kepa!anya dihias daun-daun serta bulu burung. Di Sangean nekara dengan gambar orang menunggang ku¬da dan pengiringnya yang berpakaian Tartar.ini memberi petunjuk hubungan dengan orang Tartar Tiongkok. Dan hingaa kini terdapat pada seni hias suku Dayak dan Ngada (Flores).
Nekara dipulau Selayar dan Kei dihias dengan gambar gajah, merak, harimau sebagai binatang bukan dari Timur, sehingga kita mengambil kesimpulan asal nekara dan bagian barat Indonesia atau benya Asia dan penyebarannya kearah ke timur.
Di tonkin terdapat nekara dengan hiasan yang berpakaian upacara bermotif daun-daun dan bulu terda¬pat di Mentawai pada waktu upacara tari burung, diantaranya orang memegang kapak sepatu yang berbentuk candrasa, adalagi orang meniup bunyi-bunyian kini dikenal di Indonesia satu suku bangsa ialah bangsa Dayak. Yang dinamakan keluri atau kladi. Dulu alat ini tersebar sebagai bukti terdapat di Borobudur orang bermain keluri.
Berbagai nekara dengan hiasan kapal, perahu; kapal ini bukan saja untuk berlajar tetapi kapal perahu dipakai untuk membawa roh dari dunia ke alam akherat. Nekara tidak saja dari luar negeri tapi dalam negeri juga ada misalnya didesa Manuaba (Bali).
3. Benda-benda lainnya
Kecuali kapak corong dan nekara banyak lagi benda-benda lain didapatkan beberapa perhiasan anting-anting, gelang, binggel (gelang) kaki, kalung dan cincin ini tidak dihias, ada juga dibuat kecil dipakai alat penukar (uang) atau membuat patung artja, seperti binatang kecil-kecil yang dipergunakan sebagai liongtin. Didanau Kerinci pulau Madura diketemukan bejana perunggu seperti periuk langsing dan gepeng. Di Sumatera bagian atasnya hilang dari pulau Madura cacat sedikit dan dihias dengan ukuran-ukuran yang sangat indah berupa gambar geo-metrick dan pilin-pilin yang mirip huruf J. Di Madura terdapat hiasan Merak, rusa, katak-kata segitiga dan bejana ini digunakan di Hindia Betakang.
Di Sumatera terdapat danau Kerinci diketemukan selubung lengan dari perunggu lagi pula terdapat manik-manik dari kaca yang terdapat dalain kuburan dan merupakan bagian besar yang dipergunakan sebagai uang buat bekal orang meninggal untuk dibawa ke akhe-rat. Zaman perunggu orang telah pandai membuat dan menuang kaca hanya tehnik yang kurang. Warnanya merah, biru, hijau, putih dan kuning hingga dipakai sampai jauh zaman sejarah serta menjadi barang perda-gangan misalnya di Kalimantan Barat dan Papua.
4. Kebudayaan Dongson
Kebudayaan perunggu Asia Tenggara dinamakan kebudayaan Dongson, menurut nama tempat penyelidikan di daerah Tonkin maka disitulah pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Disini diketamukan segala macam perunggu, nekara, alat-alat besi dan kuburan-zaman itu.
Selanjutnya diketemukan didanau Kerinci dan Madura, pendek kata di Tonkin terdapat bekas-bekas dari zaman perunggu seluruhnya dengan hiasan nekara, sehingga hubungan Asia dengan India sangat erat.
Pusat kebudayaan logam di Asia yang berpusat di Dongsan dan datang kesini bergelombang melalui jalan barat lewat jazirah Malaka, dan menurut para akhli kebudayaan ini sebangsa dengan kebudayaan kapak persegi ialah bangsa Austronesia. Nenek Moyang bangsa Indone¬sia datang kemari dalam dua ambalan (gelombang):
a. Dalam zaman neolithikum sejak lebih kurang 2000 tahun sebelum masehi.
b. Dalam zaman perunggu sejak lebih kurang 500 tahun sebelum masehi.
Menurut Victor Goloubew penyelidik pertama berpendapat kebudayaan perunggu berkembang sejak abad pertengahan sebelum masehi, penemuan ini berdasarkan penemuaan berbagai mata uang Tiongkok zaman Han (sekitar tahun 100 sebelum Masehi) yang didapatkan dikuburan di Dongson. Anehnya disitu diketemukan nekara-nekara tiruan kecil dari perunggu pula ini sebagai bekal yang meninggal keakherat. Menurut Van Heine Geldern kebudayaan Dongson paling muda berasal dari 300 tahun sebelum Masehi, pendapatnya diperkuat dengan hasil penyelidikan atas hiasan nekara Dongson yang ternyata tidak ada persamaannya dengan hiasan Tiongkok dari zaman Han itu.
Jadi kebudayaan perunggu di Indonesia disebut juga kebudayaan Dongsan "Leitfossil" atau fossil petunjuk yang utama ialah nekara, kapak sepatu (kapak sepatu yang panjang pada satu sisinya dinamakan candrasa) dan dipergunakan sebagai senjata kebesaran atau menjadi lambang pada upacara tertentu. Jadi tidak dipergunakan untuk keperluan sehari-hari seperti ketiga bejana pe¬runggu yang telah dijumpai di Kerinci, antara lain se¬bagai berikut :
a. dijumpai di Kerinci Sumatera.
b. dijumpai di Madura
c. dijumpai di Kamboja (daratan asin).
Bejana yang diketemukan di Madura sangat besar dan indah tingginya 900 mm dan lebarnya 500 mm kedua bidangnya kaya akan ragam hias. Tepat dibawah lehernya kita dapati lima rangkaian ragam hias tumpul dan dalam. Juga disini kita lihat pula gambar burung merah yang sudah diberi gaya. Antara bejana Madura dan bejana Kerin¬ci ini tidak banyak perbedaannya sedangkan bejana tersebut sekarang terdapat atau disimpan di Musium Nasional di Jakarta yang disimpan dalam sebuah lemari. kaca dibahagian belakang dan bagian khusus lantai atas, disitu dapat juga kita lihat beberapa buah Nekara dan lainnya.
Dapat kita katakan sebagian besar dari kebudayaan dan benda-benda prasejarah (Fossil dan Artefact) ada di Museum tersebut.
B. Kebudayaan Besi.
Pada masa ini orang telah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituangkan menjadi alat-alat yang diperlukan. Peleburan besi meminta panas yang jauh lebih tinggi dari peleburan tembaga ataupun perunggu.
Dengan demikian, maka alat-alat pada zaman besi itu tentu lebih sempurna dari pada alat-alat zaman sebelumnya, karena untuk dapat memperolehnya membutuhkan panas yang sangat tinggi ( ± 3500° Celcius).
IKHTISAR
1.KJOKKENMODDINGER adalah bekas-bekas tempat tinggal ditepi pantai atau sampah dapur, asal kata dari kejokken = dapur, moddinger sampah.
2. ABR1S SOUS ROCHE = didalam gua-gua.
3. HACHE COURTE ialah kapak pendek.
4. Dr. P.V, van stein callenfels adalah Bapak Prasejarah Indonesia.
5. Chopper ialah kapak genggam palaeolithikum dan pabble ialah kapak genggam mesolithikum.
6. Perkakas alat dari batu diperoleh dikali melalui dipecah dan dibelah.
7. Protoneolith adalah menunjukkan pengaruh neolithikum pada kapak yang dalam segalanya masih bersifat me¬solithikum (kasar), akan tetapi tempat tajamnya telah licin dan halus diasah.
8. Sampung bone colture adalah alat-alat tulang didalam gua lawa.
9. Kebudayaan Mesolithikum: pebble Culture - Kjokkenmoddinger bone culture^d. flake culture /RQCHE10. Penulis Prasejarah Indonesia lainnya adalah Dr. A.N.J. Th. *a Th. Van der Hoop dan H.R. Van Heekeren.
10. Prasejarah disebut juga masa Nirleka (nir = tidak, leka = tulisan) menurut Ilyas Sutan Pamenan.


PALAEOLITHICUM
Para ilmuwan mengatakan bahwa manusia ada di dunia dalam zaman skunder, sedang perkembangan selanjutnya terjadi pada zaman tertier yakni bentuk primata menjadi bentuk manusia. Penyelidikan ini didasarkan pada temuan fosil yaitu sisa-sisa yang telah membatu dan diketemukan dalam lapisan bumi. Manusia ada di atas bumi ini tak sekonyong-konyong muncul tetapi berkembang dari tingkat rendah ke atas dari tingkat binatang ke tingkat manusia. Dari lapisan bumi pleistocen terdapat tanda-tanda per¬kembangan manusia maka zaman prasejarah yang tertua ini palaeolithicum dan di masa holocen manusia sudah betul-betul menjadi manusia (homo) maka homo sapiens adalah sejenis dengan manusia sekarang.
Di zaman pleistocen perkembangan jasmani dan rohaninya manusia dan manusia rendah lebih tinggi tingkatannya dari binatang, dengan akal meskipun dalam tingkat permulaan telah menyambung tangannya sebagai pelengkap tubuhnya guna mempertahan-kan, memelihara dan mempermudah hidupnya. Mula-mula yang dipergunakan sebagai alat apa yang diketemukan dalam alam agar dapat memenuhi kebutuhannya karena pengalaman-pengalaman lama, batu adalah bahan yang utama dan tidak sembarangan harus dipilih batu yang kasar lagi kuat batu tadi diberi bentuk sesuai dengan penggunaan-nya nanti.
1. Jenis-jenis manusia pertama
Lapisan bumi pleistocen terdapat dipelbagai tempat di dunia; di pulau Jawa sangat penting bagi dunia internasional, karena fosil yang ditemukan berhasil dari segala zaman pleistocen dan memberi keterangan yang lengkap.
Selanjutnya penemuan pertama di Indonesia merupakan pangkal penyelidikan selanjutnya, tahun 1890 oleh E. Dubois di dekat Trinil sebuah desa dipinggiran Bengawan Solo tak jauh dari Ngawi diketemukan Pithecanthropus Erectus yaitu diketemukan bagian rahang yang kemudian geraham dan bagian atas tengkorak. Di tahun 1892 diketemukan geraham lagi dan paha kiri, karena penemu¬an tidak ada dasar dan penentuan isi otaknya diperkirakan 900 CC, sedang manusia otaknya selalu lebih dari 1.000 CC, sedang kera 600 CC. Jadi makhluk Trinil terletak diantara manusia dan kera. Bentuk tulang belakang kepalanya yang menentukan duduk kepala di atas leher menunjukkan ke arah siku, sehingga meng-ingatkan kepada manusia yang menyerupainya.
Tulang kening menonjol kemuka dan di atas hidung menonjol jadi satu, di atas tulang kening dengan dahi licin ke belakang sehingga dahinya dapat dikatakan tidak ada, tulang paha menyerupai manusia. Dengan demikian berjalan tegak dan tingginya 1,65 m. Gerahamnya lebih besar dari manusia menunjukkan sifat-sifat kera.
Penemuan-penemuan ini masih disangsikan, bahkan ada yang menempatkan di dalam zaman geologi akhir tersier. Baru penyelidikan yang lebih teliti berdasarkan penemuan-penemuan baru dalam perkembangan manusia berdasarkan pendapat G.H.R. Van Koenigswald dan F. Weidenreich. Tahun 1936 sampai dengan 1941 diadakan penyelidikan oleh Van Koenigswald di lembah sungai Solo, tahun 1936 didapatkan fosil tengkorak anak yang berumur 5 tahun yang diketemukan tempat gigi, maka dari itu makhluk ini diberi nama Homo Mojokertensis.
Oleh Van Koenigswald membagi dilluvium lembah kali Solo dalam 3 lapisan.
a. Paling bawah ialah lapisan Jetis (Pleistocen bawah).
b. Dilapisan tengah terletak lapisan Trinil (Pleistocen tengah).
c. Dilapisan Ngandong (Pleistocen atas).
Van Koenigswald tahun 1941 di desa Sangiran (lembah Solo) menemukan rahang manusia yang lebih besar dan bersifat kera, karena makhluk ini lebih besar maka diberi nama Meganthropus Palaeojavanicus. Tahun 1931-1934 Koeningswald dan Weidenreich menemukan 11 tengkorak dan yang hancur hanya rahang-rahangnya dan ini lebih besar dan tinggi tingkatannya disebut Soloensis (= manusia dari Solo).
Tahun 1889 Wajak dekat Tulungagung (Kediri) diketemukan tengkorak Homo Wajakensis dan bersamaan dengan penduduk asli benua Australia, dan menurut Dubois, Wajakensis termasuk dalam golongan dan bersama de¬ngan penduduk asli Australia nenek moyang Homo Soloensis dan nantinya menurunkan langsung bangsa asli di Australia. Maka selanjutnya Homo Wajakensis dan Homo Soloensis asalnya dari lapisan bumi Pleistocen atau dan mungkin dimasukkan ke dalam jenis Homo Sapiens.
2. Kebudayaan Pertama
Kebudayaan Indonesia yang tertua diketemukan di daerah Pacitan dan Ngandong menurut nama kedua itu kebudayaan Palaeolithicum dibagi atas: (a) Kebudayaan Pacitan, dan (b) Kebudayaan Ngandong.
a. Kebudayaan Pacitan
Tahun 1935 di Pacitan oleh Van Koenigswald dikete¬mukan alat-alat batu atau kapak genggam yaitu alat serupa kapak tetapi tidak bertangkai dan digenggam dengan tangan, kapak genggam ini ada yang dikerjakan secara rapi dan ada pula secara kasar. Alat-alat Pacitan ini dalam prasejarah disebut chopper (= alat penetak) alat ini berasal dari lapisan Trinil jadi dalam Pleistocen tengah.
Di Tiongkok (Peking) didalam goa Choukoutien di¬ketemukan yang sama dengan Pithecanthropus Erectus dan jenis manusia ini diberi nama Sinanthropis Pekinensis. Alat-alat Palaeolithikum ini diketemukan juga di Progo dan Gombong (Jateng), di Sukabumi (Jabar) dan Lahat (Sumsel).
b. Kebudayaan Ngandong
Didapatkan di Ngandong dan Sidorarjo (Ngawi, Madiun) disitu didapatkannya alat-alat dari tulang kapak genggam, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak yang bergerigi. Ditemukan dekat Sangiran alat-alat kecil ini dinamakan flakes, dan ac yang dibuat dari batu indah seperti Chalcedaq i Cibenge (Sulsel) diketemukan flakes. Di Indonesia kesenian zaman Pleistocen tahun 1950 oleh N Heeren Palm menemukan di dinding goa di Sulsel gambar tapak tangan berwarna merah. H.R. Van Heekeren menemukan gambar babi hutan di goa yang sama yang berwarna dan gambar tangan di goa Leang-Leang umur masa batu tengah (mesolithicum).

IKHTISAR PRA SEJARAH



0 komentar:

Poskan Komentar

Setelah membaca posting Berikan Komentar anda untuk memperbaiki kesalahan tulisan kami..

belajar sejarah itu???

Kegiatan Atau Program K.I.S.A.H

  • 1. Upgrade Peduli Nias, Nias Expo 2009 pada tanggal 26 Desember 2009 bekerja sama dengan staff dari Menpudpar dan Media Massa Cetak Sinar Indonesia

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites